Sabtu, 27 November 2010

Step-by step we'll find the glorious of Islam

 Sekilas pandang tentang Sekolah dan Pondok Pesantren NURULHIDAYAH Pamalayan Cikelet garut Jawa Barat
Garut adalah sebuah kabupaten di Jawa Barat yang terkenal dengan jajanan dodolnya. Selain itu, Garut juga dikenal sebagai kawasan dengan tradisi Islamnya yang kental. Berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) lahir di kota ini. Keberadaan pondok pesantren yang banyak jumlahnya juga salah satu ciri khas Garut.
Bila Anda pergi ke kawasan pesisir pantai Selatan Kabupaten Garut, tepatnya di Desa Pamalayan, Kecamatan Cikelet, terdapat sebuah pesantren yang cukup dikenal masyarakat sekitar Kewedanaan Wilayah Tujuh ini. Pesantren itu bernama PP. Nurul Hidayah, yang terletak di Jln. Linggamanik, Pamalayan, Cikelet (kurang lebih 80 KM dari pusat kota Garut). Pesantren ini cukup dekat dengan kawasan pantai laut Samudera Selatan yang terkenal dengan gelombangnya yang tinggi dan ganas. Di Pamalayan ini jumlah penduduknya kurang lebih 3500 jiwa. Separuh dari mereka menggantungkan hidup dari hasil laut, 30 persennya berladang atau bertani dengan sistem tadah hujan, dan 20 persen lainnya menjadi PNS atau bekerja di sektor lain.
PP. Nurul Hidayah sendiri diasuh oleh sesepuhnya bernama KH. Ijudin Nawawi. Menurut keterangan salah satu putranya, pesantren ini berdiri pada tahun 1963. Saat ini, dengan dibantu putra-putrinya, Kyai Ijudin berhasil mengembangkan peran dan fungsi pesantren di tengah-tengah masyarakat sekitar.

Sebuah Ikhtiar Pemberdayaan Umat
KH. Ijudin Nawawi dan putra sulungnya, KH. Aceng Muhjidin, sejak awal mendirikan PP. Nurul Hidayah ini bertujuan untuk mengembangkan dakwah islamiyah.  Sebab, keduanya merasa prihatin dengan minimnya generasi muda sekitar yang memiliki ilmu agama tinggi, sekaligus berwawasan luas tentang keilmuan lainnya (teknologi). Atas upaya keduanya dalam melakukan pendekatan, akhirnya mereka berhasil merangkul masyarakatnya untuk membangun pesantren ini bersama-sama.
Pesantren yang masih memegang teguh pola pikir konservatif ini, belakangan diwarnai pula dengan pendidikan formal. Ini terlihat dengan hadirnya SMA dan SMP Nurul Hidayah sejak 2005 lalu. Rasa percaya diri dan keinginan kuat dari Kyai Aceng dalam mewarnai pola pikir warga pesantren untuk maju tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamental ini, menumbuhkan kepercayaan masyarakat. Saat ini, masyarakat di daerah sekitar maupun kecamatan-kecamatan terdekat tak ragu lagi menitipkan putra-putrinya belajar di Pesantren.
Meski masih tergolong muda usia, sekolah yang ada di pesantren ini berupaya  menerapkan sistem pendidikan yang integral. Seluruh unsur pengelola pesantren perlahan juga merombak pola pikir yang dulu menempatkan perempuan sebagai kelompok yang terpinggirkan dalam pendidikan. Kini perempuan semakin terbuka kesempatannya dalam menuntut ilmu pengetahuan. Di pesantren ini tak ada lagi pembeda-bedaan penyampaian ilmu dari kyai terhadap santri lelaki ataupun perempuan. Sebelum tahun 2000-an, mungkin jarang terbersit di pikiran orang tua santri untuk menyekolahkan anak perempuannya hingga ke perguruan tinggi. Setelah  mondok, anak perempuan biasanya dianggap cukup berada di rumah, menikah, mengurus anak dan menunggu suami pulang kerja. Sementara, laki-laki berkesempatan mendapat pendidikan tinggi sehingga nantinya sangat menjanjikan menjadi pegawai pemerintah dengan kelayakan upah yang diterima.
Seiring kiprah PP. Nurul Hidayah dalam pengembangan pendidikan yang integral, kini mulai bermunculan kader-kader perempuan yang berkeinginan kuat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Terakhir, dari 80 santri yang ada, 60 persennya adalah perempuan. Karenanya, pemegang kebijakan pesantren,  mu’allim (para pengasuh), dan guru-guru sudah lebih banyak memberi kesempatan pada murid perempuan yang kemampuannya juga di atas rata-rata.


RUBU, Ilmu Hikmah Pesantren
Kata rubu’ sendiri berasal dari Bahasa Arab, berarti seperempat atau menunjukkan seperempat dari lingkaran bulatan dunia. Istilah ini lalu dikaitkan dengan ilmu  hisab atau perbintangan. Rubu’  juga bermakna ilmu  falak;  salah satu ilmu yang dimiliki dan diajarkan Kyai Ijudin kepada para santrinya. Ilmu falak ini diajarkannya sejak ada sekolah SMA dan telah masuk ke kurikulum pendidikan pesantren.
Di PP. Nurul Hidayah ini, istilah RUBU juga dipakai untuk menerangkan prinsip  Riyadlotunnafsi, Uluuman, Baalighan, Ukhwatan. Ini adalah berbagai ajaran hikmah yang diperkenalkan pada para santri, lelaki dan perempuan.
Riyadlatunnafsi adalah ajaran mengolah jiwa dan raga. Para Nabi dan Rasul, dahulu banyak mengamalkannya untuk tugas kenabian yang berat, menyebarluaskan syariat Islam yang banyak rintangannya.
Uluuman, berilmu adalah syarat utama pendidik. Selanjutnya, tugas pendidik memberi bekal anak didiknya agar jadi orang yang berilmu, yang bisa menjadikan mereka sebagai ulama dengan ke- seimbangan  duniawi wa ukhrawi.
Balighan, panggilan  jihad ini berarti menyampaikan dan mengamalkan ilmu yang telah diperoleh para santri, sebagai  muballigh  yang turut berjuang untuk agama dan masyarakatnya.
Ukhwatan, prinsip kerja sama dan persaudaraan. Inilah yang akan menyempurnakan sampainya dakwah Islamiyah kepada masyarakat. Berkaca dari tim sepakbola, tak ada satu kekuatan yang akan mencetak gol tanpa kerjasama, begitupun dalam Islam. Tiap muslim perlu berjuang bersama-sama menuju kejayaan umat dengan menghapus kebodohan.
Di samping ilmu-ilmu hikmah tersebut, PP. Nurul Hidayah juga mengajari santrinya ilmu  qira’at atau baca tulis Alquran. Hal ini dilaksanakan tanpa diskriminasi, baik santri putra maupun putri, semua mempelajarinya. Bahkan, kebanyakan santri putri lebih menguasai ilmu  falak, ilmu hikmah, dan juga qira’at ini.

Bersama Rahima Memperjuangkan Kesetaraan
Sejak 2008 lalu, PP. Nurul Hidayah telah mulai bekerjasama dengan Rahima. Lewat keikutsertaan salah satu pengasuh pesantren pada program Rahima, isu kesetaraan mulai pula diperkenalkan di pesantren. Sebab itu, pengetahuan masyarakat dan santri makin terbuka mengenai relasi sosial antara lelaki-perempuan di sekitar mereka. Hal ini memberi pula inisiatif mengubah corak pesantren, sehingga lebih memberi ruang yang setara bagi lelaki dan perempuan.
Meski inisiatif tersebut baru bisa dilakukan segelintir kader pesantren, mudah- mudahan upaya ini akan jadi kesadaran bersama. Kita perlu berjuang bersama-sama, agar kiprah perempuan di masyarakat lebih terbuka luas.Nuraisyah Hidayah – Garut, Jawa Barat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini